Rafting Rp 270.000 | Odyssey Submarine Rp 550.000 | Fast boat ke Gili Rp 400.000 : BOOK 081916533222

«

»

Aug 09

Keunikan di Desa Trunyan

Keunikan tradisi pemakaman mayat di Desa Trunyan sampai sekarang ini masih mejadi tradisi yang dilakukan secara turun temurun oleh warga setempat. Prosesi orang meninggal di Bali, biasanya dikubur ataupun dibakar. Tapi kalau di desa Trunyan tidak seperti itu, tubuh orang yang sudah meninggal melalui sebuah prosesi dan akhirnya dibungkus dengan kain kapan, dan selanjutnya ditaruh di atas tanah di bawah taru menyan, dikelilingi anyaman dari pohon bambu atau yang disebut ancak saji. Unik bukan…yang cukup aneh juga mayat tidak mengeluarkan bau sedikitpun.

Jadi kalu kebetulan anda wisata ke Bali dan mengunjungi tempat ini tidak perlu takut dengan bau yang menyengat. Penomena ini terjadi mungkin karena bau tersebut sudah diserap oleh Taru/ pohon Menyan yang tumbuh besar di areal pemakaman. Desa Trunyan memang merupakan desa tua di Bali, masyarakatnya masih memegang teguh warisan budaya dan tradisi leluhur, desa ini menjadi tujuan wisata unik yang akan memberikan pengalaman berbeda wisata Bali anda.

Tradisi Unik di Desa-Trunyan

Jika melakukan perjalan tour ataupun wisata keliling Bali, anda bisa menjadi desa Tenganan sebagai destinasi wisata wajib, jarak kalau dari Denpasar sekitar 65 km atau sekitar 2 jam perjalanan dengan kendaraan. Sebelum sampai di Desa Trunyan, anda akan ketemu beberapa tempat-tempat menarik yang mungkin bisa anda kunjungi, seperti Ubud, Goa gajah, tampaksiring dan penelokan Kintamani tempat menyaksikan keindahan panorama Danau Batur.

Dari penelokan anda turun menuju tepi danau batur tepatnya di Desa Kedisan ataupun bisa ke Toya Bungkah di sini dibangun dermaga yang diperuntukkan untuk perahu penyebrangan menuju Desa Trunyan. Anda bisa mendapatkan tiket speed boat ke Trunyan, satu buah boat muat maksimal 8 orang penumpang, berwisata menikmati keindahan danau Batur yang indah, kemudian melanjutkan penyebrangan mengunjungi Desa Trunyan, maka anda diajak berkunjung ke pura Desa kemudian ke pemakaman dan ditemani oleh seorang pemandu atau guide lokal.

Trunyan sendiri diambil dari kata Taru dan Menyan, taru artinya pohon dan menyan artinya harum, sehingga pohon yang berbau harum diyakini dapat menyerap bau, sehingga mayat tidak mengeluarkan bau. Konon karena perintah raja, khawatir dengan pohon menyan yang baunya harum dan menyengat hidung, membuat banyak orang yang akan mencarinya, nah untuk menghindari hal ini, maka di bawah pohon ditaruh jenazah-jenazah yang diharapkan mengeluarkan bau busuk, jenazah yang diharapkan akan mengeluarkan bau busuk ternyata tidak mengeluarkan bau sama sekali dan taru menyanpun tidak mengeluarkan bau harum lagi. Dan tradisi ini masih berlangsung sampai sekarang.

Tapi tidak semua jenazah di biarkan di alam terbuka di bawah taru menyan, tempat ini hanya diperuntukkan bagi yang meninggal sudah dewasa, meninggal secara normal dan tidak cacat, untuk jenazah bayi di kubur seperti biasanya di Sema Muda dan jenazah yang cacat, meninggal karena tidak normal karena bunuh diri, dibunuh, kecelakaan dikuburkan di Sema Bantas.

Desa Trunyan dengan tradisinya yang unik, bisa dimasukkan dalam agenda tour anda selanjutnya, apalagi kebetulan menyusun Kintamani sebagi tujuan wisata selanjutnya, karena jarak dari sini tidaklah begitu jauh untuk menuju ke dermaga penyebrangan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>