Bali terkenal dengan keindahan alam, objek wisata di Bali dan juga memiliki budaya yang religius, sehingga Bali yang dengan mayoritas agama Hindu, dikenal juga dengan Pulau Seribu Pura. Setiap penduduk di Bali, yang beragama Hindu, rumahnya sudah pasti ada satu pura keluarga, pura yang dikategorikan memiliki ruang lingkup paling kecil dalam sebuah keluarga. Pura ini di sebut Pura/ sanggah merajan.
Dari karakternya ada 4 jenis pura, yaitu:
Pura Kawitan: Pura ini sudah bersifat spesifik di mana para pemujanya ditentukan oleh asal usul keturunan atau wit dari orang tersebut, ini akan diikuti secara turun temurun oleh generasi berikutnya, lokasi pura biasanya disuatu tempat yang berdekatan dengan kumpulan keluarga dari orang-orang tersebut. Bisa dilihat dari golongan/kasta/warna dari pemujanya Termasuk ke dalam kategori ini adalah; Sanggah-Pemerajan, Pratiwi, Paibon, Panti, Dadia atau Dalem Dadia, Penataran Dadia, Pedharman dan sejenisnya.
Pura Swagina: Dari namanya Gina yang artinya pekerjaan, dikelompokkan berdasarkan fungsinya sehingga sering disebut pura fungsional. Pemuja dari pura-pura ini disatukan oleh kesamaan di dalam kekaryaan atau di dalam mata pencaharian seperti; untuk para pedagang adalah Pura Melanting, para petani dengan Pura Subak, Pura Ulunsuwi, Pura Bedugul, dan Pura Uluncarik, pura yang dibangun di sebuah tempat usaha, baik itu hotel, pabrik , perkantoran pemerintah maupun swasta.
Pura Kahyangan Desa: Di Bali ada desa yang disebut Desa Pekraman, desa-desa yang dibagi berdasarkan adat, dan mempunya tanggung jawab dan keterikatan oleh Adat. Di Desa ini akan di bangu pura yang namanya Kahyangan Tiga, yaitu tiga buah pura yang melingkupi desa ialah Pura Desa atau Bale Agung sebagai tempat pemujaan Tuhan dalam prabhawa-Nya sebagai pencipta yaitu Brahma, Pura Puseh sebagai tempat pemujaan Tuhan dalan manifestasi-Nya sebagai pemelihara yaitu Wisnu dan Pura Dalem sebagai tempat pemujaan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai pelebur yaitu Çiwa.
Pura Kahyangan Jagat dan Pura Dang Kahyangan: Pura Kahyangan jagat tergolong pura untuk umum, dan di puja oleh seluruh umat Hindhu yang ada di Indonesia. Pura ini sebagai tempat pemujaan Ida Sang Hyang Widi Wasa – Tuhan Yang Maha Esa dalam segala prabhawa-Nya atau manifestasi-Nya. Sedangkan Pura Dang Kahyangan dibangun untuk menghormati jasa-jasa pandita (guru suci). Pura Dang Kahyangan dikelompokkan berdasarkan sejarah. Di mana, pura yang dikenal sebagai tempat pemujaan di masa kerajaan di Bali, dimasukkan ke dalam kelompok Pura Dang Kahyangan Jagat, seperti Pura Besakih, Pura Goalawah, Pura Andakasa, Pura Rambut Siwi, Pura Silaukti, Pura Lempuyang dan banyak lagi yang lainnya. Dan karena latar belakang sejarah, pura ini sering dijadikan tujuan objek wisata di Bali.
Bagi wisatawan yang ingin wisata di Bali, mengunjungi pura/ masuk ke areal pura yang ada di Bali, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: bagi wanita yang lagi datang bulan tidak diperbolehkan masuk ke areal pura, wajib menggunakan sarung dan selendang, tidak melakukan hal asusila di areal pura, tidak berkata-kata kotor, mendahulukan/ memprioritaskan orang yang lagi sembahyang.
Berikut beberapa informasi mengenai Pura-pura yang ada di Bali:
Pura Segara Rupek
Bali yang selain memiliki objek wisata yang indah seperti dengan pantainya, wisata alam pegunungannya juga sebagai Pulau seribu pura. Salah satunya Pura Segara Rupek, terletak di ujung Barat Pulau Bali, tepatnya di desa Sumberklampok, Kecamatan Grokgak, Buleleng. Jika anda ke lokasi lewat darat, dengan kendaraan bermotor atau mobil.
Pura Candidasa
Pura ini merupakan penyungsungan umum sebagai tempat suci untuk memuliakan dan memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa, terletak di Banjar Samuh, desa Bugbug, Kabupaten Karangasem, lokasinya di pinggir jalan raya yang menghubungkan dua Kabupaten yaitu Klungkung dan Karangasem. kalau dari Denpasar sekitar 45 km sebelah kiri jalan.
Pura Pulaki
Pura Pulaki lokasinya di desa Banyupoh, kecamatan Grokgak, kabupaten Buleleng sekitar 53 kilometer arah Barat kota Singaraja, terletak di bukit karang yang bertebing batu curam yang langsung menghadap ke laut, dengan pemandangan alam yang indah ini, pemedek atau umat Hindhu yang melakukan persembahyangan pasti akan merasa takjub.
Pura Dasar Bhuana
Pura Dasar Bhuana merupakan Pura Dang Kahyangan menjadi penyungsungan Catur Warga dengan urutan letak penyungsungan dari Utara ke Selatan; yang paling Utara untuk waraga Pasek (Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi), kemudian warga satrya Dalem, warga Brahmana Siwa dan yang paling terakhir di sebelah Selatan Warga Pande (Maha Semaya warga Pande), merupakan pemersatu jagat dengan konsep bersatunya semua klan yang ada di Bali dengan konsep ”kaula gusti menunggal.
Pura Andakasa
Pura Luhur Andakasa merupakan salah satu Pura Kahyangan jagat di Bali, terletak di ketinggian 200 meter dari permukaan laut di banjar Pekel, desa Gegelang, Kecamatan Manggis, Karangasem, sekitar 60 km dari Denpasar, 20 km dari Klungkung atau sekitar 15 km ke arah Timur objek wisata Pura Goa Lawah, tepat di persimpangan menuju pelabuhan Padang bay, san satu-satunya rambu lalu lintas (traffic light) belok kiri.
Pura Kehen
Bali memang memiliki ribuan pura, seperti Pura Kehen yang unik, pintu masuk pura menggunakan Candi Kurung tidak seperti pura kahyangan jagat yang lain yang menggunakan candi bentar, hal unik lainnya Bale Kulkul ditempatkan di atas pohon beringin yang sudah berusia ratusan tahun, menurut cerita warga jika ada salah satu ranting beringin yang patah akan terjadi musibah.
Pura Candidasa
terletak di desa Bedulu, Blahbatuh, kabupaten Gianyar Bali, dan berfungsi sebagai tempat memuja kekuatan alam dan nenek moyang. Tergolong pura yang sudah tua, karena dibangun pada masa pra-sejarah, melewati perjalanan sejarah yang sangat panjang, sehingga ada kemungkinan ada informasi yang hilang, seperti yang ada di salah satu halaman dalam lontar Tatwa Siwa Purana menyebutkan bahwa pada masa pemerintahan Prabu Candrasangka
Pura Silayukti
Pura Silayukti adalah Pura Dang Kahyangan sebagai penghormatan kepada Guru Suci bagi umat Hindu di Bali yaitu Mpu Kuturan. Mpu Kuturan tokoh spiritual Hindu di abad ke-11 Masehi, beliau adalah salah seorang tokoh yang berbuat dengan landasan niskama karma. Artinya, berbuat tanpa pamerih akan hasilnya. Pura terletak di Desa Padangbai.
Pura Luhur Batukaru
Pura Luhur Batukaru termasuk salah satu Pura Sad Kahyangan di Bali, terletak di desa Wongaya Gede, kecamatan Penebel, kabupaten Tabanan. Sudah merupakan suatu ciri, tempat suci agama hindhu terletak ditempat-tempat di areal pegunungan ataupun pantai yang jauh dari keramaian, begitu juga keberadaan Pura Luhur Batukaru.
Pura Perancak
Sejarah awal Pura Perancak adalah berkaitan erat dengan kedatangan Danghyang Dwijendara (Dang Hyang Nirartha) atau beliau disebut juga Pedanda Wau Rawuh. Diceritakan saat beliau datang ke Bali dari Jawa Dwipa (blambangan) perkiraan di tahun 1015 bersama tujug putera dan istrinya, beliau tiba di tepi pantai Jembrana dan bertemu dengan I Gusti Ngurah Rangsasa di Pura Usang.
Pura Pusering Jagat
Menurut lontar Kusumadewa, Salah satu Pura Sad kahyangan di Bali adalah Pura Pusering jagat yang terletak di Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, kabupaten Gianyar, lima pura lainnya adalah Pura Watukaru, Pura Besakih (Pura Gunung Agung), Pura Lempuyang, Pura Goalawah dan Pura Uluwatu.
Pura Puncak Penulisan
Pura Puncak Penulisan merupakan pura tertua di Bali, yang ada sejak jaman megalitikum, pura ini disebutkan sebagai pura orang Bali Asli/ Bali mula/ Bali age. Pura Puncak Penulisan disebut juga Pura Tegeh Koripan (kehidupan yang tinggi dan teguh) ada yang menebutkan juga pura Pamojan.
Pura Sakenan
Pura Sakenan terletak di Pulau Kecil yang bernama Serangan, yang bisa diakses melalui jalur darat, dan merupakan wilayah teritorial Denpasar Selatan. Pura Kahyangan ini dibangun oleh Mpu Kuturan atau Mpu Rajakertha pada abad ke-10, bersamaan dengan dibangunnya beberapa pura lainnya.
Pura Ponjok Batu
Pura Dang Kahyangan Ponjok Batu mempunyai historis yang lekat dengan Dang Hyang Nirartha (Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh) karena pada saat Jama Dalem Waturenggong yang memerintah di Gelgel, beliau menetap disini dan melakukan perjalanan ke Pantai Utara di Bali, beliau berdiri di sebuah tempat.
Pura Tegal Suci Yeh Sah
Jika melanjutkan perjalanan dari Telaga Waja yang merupakan tempat rafting di Bali, sekitar 1 km akan ketemu sungai yang lebih kecil, airnya juga begitu jernih sebening kristal, sumber air sungai ini dari mata air dari Pura Esah atau Pancoran Yeh Sah dan beberapa meter setelah Pancoran ini ketemu dengan Pura Tegal Suci Yeh Sah.
Pura Kebo Edan
Berdirinya Pura Kebo Edan diperkirakan sekitar tahun 1284 atau abad ke-13 masehi, berhubungan dengan masa kejayaan kerajaan Kediri di tanah Jawa, yang bertahta saat itu Prabu Kertanegara yang menganut ajaran Hindu Tantrayana. Beliau berhasil menaklukkan Bali, kemudian memerintahkan Kebo Parud untuk menjadi patih di Bali.
Dalem Balingkang
Lokasinya di Desa Pinggan, Kec.Kintamani, Kab. Bangli. Dibangun pada abad ke-11 oleh raja Sri Jaya Pangus Harkajalancana, didalam pemerintahannya di istana Panarajon beliau didampingi oleh permaisuri utama yaitu Sri Parameswari Induja Ketana, beliau adalah putri utama yang sangat bijak berasal dari Danau Batur, dan penasehat beliau adalah Mpu Lim dan Siwa Gandhu















