Rafting Rp 270.000 | Odyssey Submarine Rp 550.000 | Fast boat ke Gili Rp 400.000 : BOOK 081916533222

«

»

May 02

Pura Perancak di Jembrana

Pura sebagai tempat suci di Bali, memiliki sejarah tersendiri, seperti keberadaan Pura Perancak yang terletak di desa Tegal Cangkring, Kabupaten Jembrana, kalau dari Denpasar dara Jalan Raya Denpasar Gilimanuk sekitar 96 km, berada di Bali Barat, memiliki pemandangan yang indah, terdapat pemandangan sungai berliku dengan aliran air yang tenang begitu juga dikejauhan terlihat jelas tepi Pulau Jawa di seberang lautan biru yang membatasi Bali Barat dan Jawa Timur, alam asri pedesaan dengan paduan rumah tradisional dan lambaian pohon nyiur yang ditiup angin pantai sungguh menyejukkan mata, sehingga nuansa pura cocok untuk wisata religi, dan bagi anda yang haus dengan alam spiritual sangat cocok sekali mendapatkan inspirasi ketenangan di sini.

Pura PerancakSejarah awal Pura Perancak adalah berkaitan erat dengan kedatangan Danghyang Dwijendara (Dang Hyang Nirartha) atau beliau disebut juga Pedanda Wau Rawuh. Diceritakan saat beliau datang ke Bali dari Jawa Dwipa (blambangan) perkiraan di tahun 1015 bersama tujug putera dan istrinya, beliau tiba di tepi pantai Jembrana dan bertemu dengan I Gusti Ngurah Rangsasa di Pura Usang yang juga merupakan pemimpin desa di sini yang terkenal keras dan ketat dalam membuat dan menjalankan peraturan, Igusti Ngurah ini perilakunya angkuh, siapapun harus tunduk kepadanya, dan peraturan harus ditaati, begitu juga dengan Danghyang Dwijendara, I Gusti Ngurah memaksa Dang Hyang Dwijendara untuk bersembahyang dan  mencakupkan tangan di Pura ini.

Dang Hyang Dwi Jendra sebenarnya berat hati takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, karena sembahyang dengan pemaksaan akan menimbulkan hal yang tidak baik, tapi dengan paksaan tersebut beliau mau juga, baru sampai di ulu hati dan belum sampai dikening tangan beliau, batu yang ada di Pura terbelah menjadi dua dan pura roboh (encak), merasa kesaktiannya kalah, I Gusti Ngurah Rangsasa melarikan diri ke Utara sampai di Sawe, sampai menemui ajalnya di sana, sehingga tempat tersebut dinamakan Sawe Rangsasa. Pemangku Pura minta maaf atas kejadian tersebut dan meminta Dang Hyang Dwijwndra untuk mengembalikan Pura tersebut, karena kesaktiannya dan anugrah Ida Sang Hyang Widi, beliau bisa mengembalikan pura seperti asalnya.Kemudian Pura Usang iniberubah nama menjadi Pura Encak atau yang lebih dikenal nama Perancak.

Di Pura Perancak ini ada meru tumpang tiga sebagai tempat pemujaan Pedanda Wau Rawuh, disebelah kirinya ada sebuah gedong juga sebagai tempat stana I Gusti Ngurah Rangsasa berdampingan, mungkin ini merupakan konsep rwa bhineda di Bali, antara kebaikan dan keburukan, siang malam, skala dan niskala, susah senang, tidak bisa dipisahkan. Di kawasan ini terdapat pula Taman Wisata Tibukleneng yang bisa dinikmati saat liburan.

Untuk pengetahui informasi tentang Pura lainnya yang ada di Bali kunjungi; Pura di Bali

CARI HOTEL MURAH DI BALI – INDONESIA

Masukkan kota tujuan dan dapatkan penawaran-penawaran menarik.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>